Si Unyil lahir kembali dalam bentuk animasi 3D

Sumber : https://beritagar.id/artikel/seni-hiburan/si-unyil-lahir-kembali-dalam-bentuk-animasi-3d

“Hom…pim…pa… Unyil kucing!”

Teriakan anak-anak pada adegan awal dari serial TV “Si Unyil” itu pasti sudah melekat di benak orang Indonesia yang menjalani masa kecil pada era 1980-an. Film boneka tangan yang ditayangkan TVRI sejak 1981 itu menjadi salah satu tayangan yang paling ditunggu anak-anak pada Minggu pagi.

Namun kemudian, film seri yang diciptakan oleh Suyadi alias Pak Raden, itu berhenti tayang pada 2003.

Setelah itu, film dan serial animasi untuk anak didominasi oleh produk luar negeri; dari anime Jepang, film kartun Barat, hingga serial animasi 3D dari Malaysia.

Sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang berkiprah di bidang perfilman, Perum Produksi Film Negara (PFN) tidak tinggal diam.

Saat perayaan Hari Film Nasional di Studio PFN, Kampung Melayu, Jakarta Timur, Kamis (30/3/2017), PFN mengumumkan Si Unyil dihidupkan kembali dalam serial berjudul Petualangan Si Unyil.

Berbeda dengan era 1980-an yang menggunakan boneka tangan, kini Unyil dan teman-temannya hadir dalam format animasi 3 dimensi (3D). PFN menggunakan jasa beberapa studio animator dalam negeri dari beberapa daerah di Indonesia.

Ternyata PFN punya tujuan tersendiri, mereka ingin membangun industri animasi di Indonesia agar terbiasa dengan proyek serius seperti Petualangan Si Unyil.

“Pengakuan bahwa animator kita hebat sudah ada. Masalahnya, yang dibutuhkan studio-studio ini adalah proyek yang sebenarnya,” ujar M. Abdul Aziz, Direktur Utama PFN. “Mereka kami latih agar bisa terbiasa dengan industri animasi yang sebenarnya,” sambung Chandra Endroputro, sutradara Petualangan Si Unyil.

Petualangan Si Unyil akan dijadikan lokomotif bagi pelaku animasi Indonesia untuk bisa memproduksi seperti standar broadcast,” lanjut Chandra.

Tantangannya adalah membuat studio-studio itu terbiasa dengan cara pekerjaan yang terarah laiknya profesional di luar negeri. Selain itu, dana dan peralatan juga jadi masalah.

“Bagaimana menggerakkan beberapa studio kecil di daerah dengan berbagai alat terbatas? Untuk perangkat lunak saja mereka tak mampu beli lisensi,” jelas Abdul.

Untuk itu, PFN bersama Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dan PT. Telekomunikasi Indonesia (Telkom) turut membantu dari segi pendanaan.

Lantas, mengapa memilih Si Unyil?

Menurut Chandra, karena proyek ini akan menjadi benchmark untuk industri animasi Indonesia, maka dicarilah ikon dan karakter yang bisa jadi contoh. “Unyil yang bisa kami angkat. Ia populer dan asli Indonesia.”

Tapi, tidak semata-mata Si Unyil versi boneka masuk begitu saja menjelma jadi animasi. “Dulu kan zamannya berbeda, kami perlu mengadaptasi cerita dan bentuk. Dulu didesain untuk boneka. Jadi kami perlu melakukan recreation tanpa menanggalkan rohnya Si Unyil,” jelas Chandra.

Oleh karena itu, proses desain memakan waktu empat bulan. Chandra terus merevisi desain karakter yang masuk sampai akhirnya ia menemukan desain yang pas. “Alhamdulilah, orang langsung tahu kalau itu Si Unyil, jadi kami juga tahu kalau rohnya Unyil tidak lepas.”

Selesai desain, tantangan lain adalah cerita. “Dari awal kekuatan animasi tetap pada cerita. Film animasi itu seringkali cerita dewasa yang dimainkan karakter anak-anak. Namun kalau cerita menarik bagi anak-anak saya percaya akan langgeng,” ujar Abdul.

Musim pertama Petualangan Si Unyil ditargetkan selesai sebelum akhir tahun ini. Selanjutnya, film animasi ini ditayangkan di Usee TV, layanan televisi berbayar dari Indihome, anak perusahaan PT Telkom.

Untuk menyambut Hari Film Nasional, episode perdananya akan disiarkan di UseeTV pada 30 Maret hingga 1 April, pukul 7.30 dan 16.30 WIB.