15 Tahun Perayaan Hari Buku Nasional

Sumber : https://kumparan.com/rina-nurjanah/15-tahun-perayaan-hari-buku-nasional

Bulan lalu, tepatnya pada 23 April, kita telah merayakan Hari Buku Sedunia yang ditetapkan oleh UNESCO, Badan Pendidikan dan Kebudayaan PBB. Hari Buku Internasional mungkin lebih terkenal dari Hari Buku Nasional yang diperingati setiap tanggal 17 Mei, hari ini.

Peringatan Hari Buku Nasional disahkan oleh mantan Menteri Pendidikan Nasional, Abdul Malik Fadjar pada 2002.
Gagasan diperlukannya peringatan Hari Buku Nasional lahir dari kekhawatiran akan minat baca dan tingkat melek huruf yang rendah di Indonesia kala itu.
Tingkat melek huruf di Indonesia pada orang dewasa atau di atas 15 tahun, menurut laporan UNESCO, pada 2002 hanya 87,9 persen. Angka tersebut kalah jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia (88,7 persen), Vietnam (90,3 persen), dan Thailand (92,6 persen) di tahun yang sama.
Selain soal melek huruf, ketersediaan buku pun dirasa sangat kurang. Di Indonesia, saat itu rata-rata hanya 18 ribu judul buku per tahun diterbitkan. Jumlah itu terhitung kecil jika dibandingkan Jepang yang sudah mampu menerbitkan 40 ribu judul buku per tahun atau China dengan 140 ribu judul per tahun.
Dengan demikian, peringatan Hari Buku Nasional diharapkan dapat meningkatkan gairah membaca masyarakat dan meningkatkan penerbitan hingga penjualan buku nasional.

Gedung Perpustakaan Nasional di Salemba

Gedung Perpustakaan Nasional di Salemba (Foto: perpusnas.go.id)

Pemilihan tanggal 17 Mei diambil dari tanggal ulang tahun Perpustakaan Nasional yang berdiri sejak 1980.
Perayaan Hari Buku Nasional yang bertepatan dengan ulang tahun Perpustakaan Nasional seolah menguatkan ikatan buku dan perpustakaan. Seperti yang selalu diajarkan, buku adalah sumber pengetahuan, dan perpustakaan adalah gudangnya.
Dengan begitu, perpustakaan juga diharapkan mampu meningkatkan kegemaran membaca, memperluas wawasan dan ilmu pengetahuan, untuk mencerdaskan kehidupan berbangsa, seperti yang tertera pada Pasal 4 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007.
Pada Bab VII Pasal 21 Undang-Undang tentang Perpustakaan disebutkan bahwa salah satu tanggung jawab Perpustakaan Nasional adalah melakukan promosi perpustakaan dan gemar membaca dalam rangka mewujudkan masyarakat pembelajar sepanjang hayat.
Setelah 15 tahun peringatan Hari Buku Nasional bersamaan dengan ulang tahun Perpustakaan Nasional, perubahan apa saja yang terjadi?

Bemo Penebar Ilmu

Anak-anak semangat membaca (Foto: Novrian Arbi/Antara)

Persentase penduduk buta huruf yang berusia di atas 15 tahun pada 2016 sebesar 4,6 persen. Berkurang sebesar 3 persen jika dibandingkan dengan persentase pada 2011, yakni sebesar 7,6 persen.
Meski angka buta huruf terus berkurang, hingga sudah tidak lagi dijadikan acuan pengukuran Indeks Pembangunan Manusia (IPM), tingkat literasi di Indonesia masih tergolong rendah.
Berdasarkan penelitian “The World’s Most Literate Nation” yang dilakukan The Central Connecticut State University pada 2016, Indonesia menempati urutan ke 60 dari 61 negara.
Ranking tersebut seolah membenarkan rendahnya minat baca di Indonesia. Stigma yang sudah melekat, ditambah dengan label “kutu buku” –yang tidak bisa dibilang bercita rasa positif– nampaknya menjadi salah satu hal yang patut diperangi.
“Stigma budaya baca rendah saya tidak terima, dan umumnya peneliti di Indonesia tidak setuju. Budaya baca masyarakat di Indonesia sangat tinggi,” kata Muh.Syarif Bando, Kepala Perpustakaan Nasional.
Syarif yang menjabat sejak 2016 memberi contoh bagaimana banyaknya coret-coret yang bisa kita temukan di manapun, mulai dari toilet hingga puncak gunung.

Ilustrasi Membaca Pesan Ponsel

Ilustrasi membaca pesan di ponsel. (Foto: StockSnap via Pixabay)

Keaktifan warganet di Indonesia pun menjadi salah satu contoh budaya baca yang tengah berkembang. Berapa banyak berita media online, postingan di Facebook, atau cuitan di Twitter yang kita baca setiap harinya?
Jika sekadar membaca, barangkali sebagian besar dari kita banyak membaca tulisan-tulisan yang melimpah di dunia maya. Namun jika kita bicara membaca buku?
Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi), pada 2015, melaporkan bahwa rata-rata orang Indonesia hanya membaca 2 buku per tahun.
Minimnya jumlah buku yang dibaca oleh orang Indonesia, menurut Syarif, tidak lain karena kurangnya buku yang terbit di negara ini.
“Kenapa tidak ada buku dibaca di Indonesia? karena tidak semua orang yang berprofesi dengan ilmu pengetahuan yang ada, menjadikan pengetahuannya sebagai sebuah buku,” tutur Syarif.
Pada 2002, diperkirakan sebanyak 18 ribu judul buku per tahun diterbitkan di Indonesia. Angka ini meninggkat menjadi sekitar 24 ribu judul buku per tahun pada 2009.
Dalam empat tahun terakhir, rata-rata jumlah terbitan buku per tahun mencapai 45 ribu judul, jika mengacu pada pengajuan ISBN (International Standard Book Number). Peningkatan signifikan terjadi pada tahun 2016 sebesar 47 persen, menjadi 64 ribu judul buku.
Sementara pada 2013, China telah mampu menerbitkan buku sebanyak 440 ribu judul, Inggris 184 ribu judul, Rusia 101 ribu judul, India 90 ribu judul, dan Jerman 93 ribu judul.
“Jumlah buku yang ada di Indonesia sangat terbatas, 8 judul buku ditunggu oleh 100.000 orang,” ujar Syarif.
Tentu saja untuk penduduk Indonesia sebesar 260 juta jiwa dan tersebar di berbagai pulau dari Sabang sampai Merauke, jumlah terbitan tersebut masih tergolong rendah. Apalagi jika kita bicara tentang kesenjangan yang terjadi antara Jawa dan Luar Jawa.
“Saya kira yang paling mendasar, terjadi kesenjangan antarwilayah di Indonesia dalam hal bahan bacaan di Indonesia,” papar Syarif selanjutnya.
Terpusatnya penerbitan buku, perpustakaan, dan segala fasilitasnya di Jawa menjadi salah satu persoalan. Bayangkan, bagaimana buku-buku harus didistribusikan ke daerah-daerah terdepan, terpencil, dan tertinggal?
Buku-buku itu barangkali harus melewati jalur udara, lalu diantar mobil, diseberangkan menggunakan perahu, hingga dibawa dengan berjalan kaki.
Namun begitu, tren peningkatan jumlah terbitan buku harus tetap dipandang positif. Belum lagi jika kita melihat semakin banyaknya masyarakat yang turut andil menjadi pegiat literasi, menumbuh-hidupkan perpustakaan di daerah-daerahnya dengan beragam cara.

Angkot Baca Buku Gratis

Angkot Baca Buku Gratis (Foto: Yudhistira Amr)

“Di sebuah negara maju, pasti ada perpustakaan yang sangat modern. Kemudian di negara-negara berkembang pasti ada perpustakaan-perpustakaan kecil yang sedang bertumbuh,” ucap Syarif.
Peringatan Hari Buku Nasional hanyalah upaya kecil untuk meningkatkan budaya baca dan kecintaan terhadap buku. Karena dengan membaca, kita bisa meningkatkan kualitas kehidupan.
“Kualitas hidup masyarakat Indonesia terbatas karena pengetahuan yang terbatas. Pengetahuan yang terbatas karena bahan bacaaan yang terbatas. Bahan bacaan yang terbatas karena kualitas hidup yang terbatas. Inilah lingkaran setan yang harus diwaspadai,” ujar Supriyanto, Pustakawan Utama Perpustakaan Nasional.
Meningkatkan kegemaran membaca, menurut Supriyanto, dimulai dari menumbuhkan reading interest, reading habbit, reading culture, sampai reading skill.
Sehingga pengetahuan yang kita peroleh dari membaca menjadi ‘alat’ bagi kita untuk berdaya dan mencerdaskan kehidupan berbangsa. Semoga!
Jadi, selamat Hari Buku Nasional dan selamat ulang tahun Perpustakaan Nasional!