Abduh Aziz – Perjalanan Film

Sumber : http://www.harnas.co/2017/05/19/abduh-aziz-perjalanan-film

Di antara hingar bingar film nasional, Perum Produksi Film Negara (PFN) justru berada di ujung tanduk. Beruntung, kondisi ini tetap dijadikan pemacu semangat. Alhasil, Badan Usaha Milik Negara yang sempat suskes dengan serial Si Unyil ini terus melangkah, meski dengan keterbatasan sarana dan sumber daya.

Wartawan HARIAN NASIONAL TEGAR RIZQON  ALFIAN pada Rabu ( 17/5), berkesempatan bertemu dengan Direktur Utama Perum Produksi Film Negara Abduh Aziz. Wawancara berkutat tentang kemajuan film di Indonesia, termasuk kondisi PFN saat ini. Berikut isi wawancaranya:

Kondisi PFN saat ini?

Kami terus berupaya (melangkah). Saat ini ada dua studio yang mash aktif. Kami punya empat meski memprihatinkan. Di sebelah gedung dulu ada gedung quality control. Sekarang sudah dihancurkan, mungkin ada pertimbangan lain dari direktur utama yang lama. Bagaimanapun kami sebagai BUMN juga perlu memberdayakan diri.  Seperti dulu ada studio animasi. PFN bahkan merupakan pionir film animasi di Indonesia. Bengkel perawatan juga dulu ada. Jadi sangat disayangkan.

Apa yang sedang dan ingin dilakukan untuk gedung PFN?

Ini tempat sebenarnya ideal dijadikan musium film. Tapi butuh bantuan pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Kalau sekarang kami fokus peremajaan dulu. Kalau sudah ada perbaikan baru mungkin bergerak lebih jauh. Kalau sekarang enggak mungkin.

Terkait film Indonesia, ada perkembangan?

Menarik, angka produksi film terus naik. Kebutuhan yang mendesak adalah jumlah layar (bioskop). Kalau sekarang  ada sekitar 1.200 layar terkonsentrasi di kota besar, 60 persennya  di Jabodetabek.

Persoalannya bagaimana membuka akses di daerah yang belum punya bioskop. Kalau ini bisa dilakukan pemerintah dan swasta, angka pertumbuhannya akan meningkat. Ada sekitar 1.300 judul film dari tahun lalu hingga sekarang. Tapi sayangnya yang sukses masih sedikit. Sebab ya itu jumlah layarnya masih sedikit.

Cara mengembangkannya?

Semua pihak (terlibat). Swasta juga harus ikut membangun ekosistem ini.

Realistis membangun bioskop di daerah terpencil?

Saya kira iya. Kalau ada pertanyaan soal daya beli tiket, saya rasa tidak masalah. Banyak bioskop atau layar yang bisa diakses itu jauh lebih baik. Sebab kalau bicara Sulawesi, paling adanya di Makassar, Manado, dan Kendari, sudah itu saja. Papua segitu besarnya cuma ada tiga layar saja. Kita punya 550 Kabupaten. Kalau di setiap Kabupaten ada 10, maka jumlah penonton dan keuntungan bisa bertambah drastis.

Persaingan film lokal dengan luar negeri, menurut Anda?

Ini persoalan klasik. Ketika bicara film, ya film luar yang dibandingkan. Saya dalam hal ini merujuk film Hollywood. Tapi coba saja lihat sekarang film-film Hollywood, tema-tema film Hollywood sekarang terbatas. Tidak banyak variasi.

Indonesia punya kesempatan merajai pasar dunia?

Belakangan mereka itu melihat pasar Asia. Jadi otomatis selera atau pasar Asia juga menjadi pertimbangan sineas Hollywood. Sebab, penonton Asia itu yang terbesar setelah pasar Amerika itu sendiri.

Optimistis dengan film lokal?

Saya percaya diri ya tentang tema-tema (film) yang kita punya. Kita sangat mampu sebenarnya untuk menampung cerita-cerita. Mungkin kalau dari segi teknis, kita bisa belajar dan maju sedikit demi sedikit. Tapi keanekaragaman, keunikan cerita ini mampu mendongkrak segala hal.

Yang membuat film Indonesia spesial?

Bahasa. Orang banyak memilih karena bahasa Indonesia. Sebab dengan bahasa Indonesia semua orang lokal terakomodasi, tidak ada banyak masalah. Tidak semua orang mampu berbahasa luar atau Inggris. Tapi selain itu, menonton film dengan berbahasa Indonesia lebih membuat kita nyaman.

Hambatan dan persaingan untuk film lokal?

Saya kira masalahanya ada pada persaingan. Kita membutuhkan semacam strategi yang mumpuni untuk mengatasi  ini. Kembali  lagi kita ingat  angka produksi yang sudah baik, bertambah setiap tahunnya. Tapi kalau boleh saya bilang itu semu, hanya sebatas angka. Faktanya produser-produser kita ini belum mampu secara terus-menerus memproduksi film.

Apa sebabnya?

Dana. Akses permodalan masih terbatas. Yang bisa menjawab pemerintah. Akses mengenai permodalan bagi produser belum ada. Selain itu setidaknya menambah jumlah layar di seluruh Indonesia adalah cara yang tepat.

Makna dan peran film itu sudah sampai mana?

Bagaimana pun film itu harus punya dua hal, yaitu efek komersial dan pendidikan. Kalau saya lihat dan rasakan sendiri, film itu sebagi agenda kultural sebuah bangsa. Kalau melihat sekarang makin beragam dan variasinya makin menarik.

Film terbaik di Indonesia unsur pendidikannya kental juga. Saya tidak khawatir kalau film katanya tidak bisa  memfilter hal negatif. Buktinya film kategori terbaik atau box office itu film-film yang unsur pendidikannya ditonjolkan. Artinya masyarakat mampu memilih tontonannya sendiri.

Arti film bagi Abduh Aziz?

Film itu semacam perjalanan. Setiap film menewarkan pengalaman yang berbeda-beda. Pengalaman soal kemanuasiaan lebih tepatnya. Dengan film kita berdialog soal pengalaman kita ke orang. Dengan begitu pengalaman saya nantinya akan terbuka dan batin lebih terbuka juga.

Harapan dan tujuan sebagai Direktur Utama PFN?

Lahan yang dimiliki PFN luasnya mencapai 2,3 hektare. Kalau dibayangkan bisa membuat semacam infrastruktur terpadu untuk mendukung film. Ini tepat dan inilah tempatnya.

Kalau saja ada ada studio yang lengkap seperti studio untuk audio, mixing, sampai  studio spesial efek ini akan lebih baik. Dengan begiti PFN bisa menjadi bagian strategis di ekosistem dunia perfilman. Mungkin tidak hanya memproduksi saja,  bisa juga ikut membantu memikirkan konsep kelangkaan layar. Bioskop rakyat misalnya.

Saya kira itu akan terus kami jual ke mana-mana, mudah-mudahan ada pihak yang tertarik. Jika kita lihat sejarah, PFN lahir dengan  muatan kultural bagaimana menghidupkan kembali PFN ini sendiri.

Konten dan produknya?

Tentu membuat film yang bagus, muatannya dapat diperhitungkan, mendidik dan juga bisa dikomersialkan. Mustahil sebuah film kalau tujuannya tidak ke sana. Terlebih PFN ini BUMN yang harus menghidupi diri sendiri.

Dulu fungsi PFN itu membuat propaganda atau doktrin untuk rakyat. Sekarang juga seperti itu, tapi doktrin yang saya maksud harus bebas dari kepentingan siapa pun atau apa pun. Dulu penjajah itu mendoktrin.Sedangkan sekarang PFN membuat produk yang memiliki tanggung jawab moral yang tinggi.

Untuk rencana jangka pendek, kami bekerja sama dengan perusahaan swasta membuat serial Si Unyil versi animasi. Saat ini sedang produksi, mudah-mudahan bisa menjadi alternatif tontonan kartun anak-anak yang mendidik.

Harapan untuk Pemerintah?

Pemerintah harus makin memahami betapa stategisnya film. Mungkin kelihatannya remeh, tapi pengaruhnya besar untuk kemajuan generasi. Jadi perlu ada kebijakan yang agresif, yang tepat untuk menempatkan sektor film.

Ini dibuktikan dari aspek ekonomi, mendongkrak kemajuan ekonomi juga. Film mampu memengaruhi aspek kognitif kita. Film itu harus dianggap aset, bahkan oleh negara. Pemerintah harus dukung permodalan untuk sineas, termasuk fasilitas layar atau bioskop. Terakhir kebebesan berekspresi.

Sebagai lulusan sastra, apakah memengaruhi selera dalam film?

Saya dari kecil dipaksa baca sastra oleh kedua orangtua. Bagi saya sastra bukan selera, tapi kebutuhan. Kiatnya dengan film jelas. Banyak film yang berkualitas baik di dalam maupun luar negeri berasal dari satra. Meskipun banyak tema bagus, tapi cerita  film-film kita masih lemah. Kita harus membudayakan membaca sastra seperti  orang-orang Prancis, Iran, atau negara Asia lain. Sastra membantu pengembangan ide cerita dan sangat kuat pengaruhnya.

Sikap ini ditularkan ke keluarga?

Otomatis. Saya tanamkan budaya baca. Saya mau anak-anak saya memilih tontonan yang tepat. Saya tidak mau anak-anak saya cuma menjadi konsumen. Tapi dengan sadar memilih yang paling baik untuk mereka sendiri. *

QUOTE:

“Kami bekerja sama dengan perusahaan swasta membuat serial Si Unyil versi animasi. Saat ini sedang produksi, mudah-mudahan bisa menjadi alternatif tontonan kartun anak-anak yang mendidik.”

 

ABDUH AZIZ
10 Oktober 1967

KARYA
1. Produser dan penulis Film The Rainmaker (Impian Kemarau, 2004)
2. Produser dan penulis Working Girls (2004)
3. Produser Diatas Rel Mati (2006)
4.Produser dan Sutradara Tjidurian 19 (2009)
5. Produser Kita versus Korupsi (2012)
5. Produser dan Penulis Sebelum Pagi Terulang Kembali (2014)

KARIER
1. Direktur Program Dewan Kesenian Jakarta 2006-2009
2.Sekertaris Dewan Kesenian Jakarta 2009-2012
3. Ketua Pelaksana Festival Film Indonesia (FFI) 2009
4. Ketua Pengurus Koalisi Seni Indonesia 2011-2014
5. Direktur Utama Perum Produksi Film Negara 2016 – sekarang