BERITA PFN

Vakum 26 Tahun, PFN Gandeng Lala Karmela Garap Film “Kuambil Lagi Hatiku”.

Jakarta, 30 Agustus 2018

Perum Produksi Film Negara, lahir kembali (reborn). Bekerjasama dengan PT. Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan & Ratu Boko (Persero) dan didukung sinergi ‘BUMN Hadir Untuk Negeri’ gandeng Lala Karmela untuk menggarap film baru, Kuambil lagi Hatiku. 

​

Film pertama PFN setelah hampir 26 tahun vakum dari perindustrian film Indonesia ini, menggandeng beberapa nama besar seperti Cut Mini, Lala Karmela, Dimas Aditya, Ria Irawan dan Dian Sidik. Bergenre drama keluarga berbumbu komedi dan menyasar para penggemar film remaja. Terakhir kali PFN memproduksi film yaitu Surat untuk Bidadari (Sutradara Garin Nugroho, 1994) dan Pelangi di Nusa Laut (Sutradara MT Risyaf, 1992).

​

Deputi Bidang Usaha Energi, Logistik, Kawasan dan Pariwisata (ELKP) Kementerian BUMN, Edwin Hidayat Abdullah mengatakan membuat film, lika likunya tidak mudah. Kami ingin membangkitkan kembali PFN dengan memproduksi film kembali, dan ini menjadi salah satu bukti bahwa BUMN serius dan berkomitmen untuk hal ini. Terima kasih kepada sinergi BUMN yang sangat mendukung pembuatan film ini. 

​

“Harapannya, PFN bisa bangkit kembali karya lewat film sehingga dapat mengedukasi masyarakat Indonesia dengan karya-karyanya. Apalagi, pesan cerita film ini adalah kehidupan yang damai dengan keberagamannya dan dapat menjadi hiburan, edukasi bagi masyarakat Indonesia" ujar Edwin dalam acara Pre-Launch-Press Conference film, di Synergi Lounge Kementerian BUMN, Jakarta (30/8)  

​

Direktur Utama PFN, Mohamad Abduh juga berharap PFN dapat bangkit kembali di perindustrian perfilman di Indonesia. Film ini merupakan langkah awal kebangkitannya,” ujar Abduh.

​

Abduh mengungkapkan, industri ekonomi kreatif saat ini menjadi salah satu andalan negara. Itu sebabnya PFN akan memulai langkah baru untuk bergerak di dunia layar lebar. Indonesia juga tak kalah kreatif dari segi seniman perfilman. Tak ada kata terlambat atau tak mungkin untuk kembali aktif dan produktif bagi PFN.

​

“Selama periode 2017, sebanyak 2 persen dari total pendapatan ekonomi kreatif mencapai Rp990 triliun, berasal dari industri film,” katanya.

​

Yang menarik, tambah Abduh produksi film ini memiliki latar belakang di Yogyakarta, tepatnya di beberapa Balai Ekonomi Desa (Balkondes) Kawasan Candi Borobudur. Alasan PFN menggandeng nama Salman Aristo juga bukan tanpa sengaja. Nama Salman sudah dikenal di dunia perfilman tanah air. 

​

“Kami bukan hanya ingin memperkenalkan Candi Borobudur sebagai tempat saja, tapi kami ingin memperkenalkannya sebagai ikon budaya, nilai-nilai dalam kehidupan,” ujar Edy Setijono, Direktur Utama PT. Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan & Ratu Boko (Persero)  

​

Sinergi BUMN yang turut mendukung proses produksi film ini di antaranya, Pertamina, Pelindo 3, PGN, Patra Jasa, WIKA, Waskita, Pembangunan Perumahan, Hutama Karya, Jasa Raharja, Bank Mandiri, BNI, BRI, BTN dan Pupuk Indonesia.

​

Film ini akan diproduseri oleh Salman Aristo dan disutradarai oleh Azhar ‘Kinoy’ Lubis. Mereka akan memulai proses syuting pada 5 September mendatang dan diharapkan dapat tayang pada awal 2019 mendatang. 

​

“Bagi saya, PFN mempunyai sumbangsih besar dalam membentuk nilai-nilai dan cara pandang tentang Indonesia.  Suatu kehormatan bagi saya bisa bekerja sama dengan PFN. Film 'Kuambil Lagi Hatiku' merupakan hasil dari diskusi yang cukup panjang untuk membentuk nilai-nilai keberagaman budaya dan agama yang membuat film ini akan semakin 'gurih'”ucap Salman.

​

Salman merasa harus ambil peran dalam mengembangkan rumah produksi film milik negara. Salman sebagai generasi yang besar dengan hiburan milik PFN terpanggil dalam memajukan rumah produksi tanah air.

​

Rencananya, pengambilan gambar dilakukan di lokasi Magelang dan Candi Borobudur selama tiga minggu dan di India untuk mengambil gambar kawasan Taj Mahal selama satu minggu. 

​

Persiapan Cast

Lala Karmela, pemeran utama di film Kuambil Lagi Hatiku mengaku sudah tak sabar untuk melakukan proses syuting.

​

Dalam film, Lala berperan menjadi Shinta, seorang gadis keturunan Indonesia yang jatuh cinta dengan laki-laki keturunan India. Lala mengaku sudah melakukan proses reading bersama para cast untuk membantu dalam mendalami perannya.

​

“Saya tertarik untuk memerankan karakter ini. Saya tertantang untuk belajar bahasa dan tarian India. Saya enggak sabar untuk mulai melakukan syuting,” kata Lala 

​

Selain itu, dia juga jatuh cinta pada ceritanya. Dalam cerita ini, Shinta yang ingin menikah dengan kekasihnya, harus mengalami drama pada saat sang ibu, Widi yang diperankan Cut Mini, harus menceritakan masa lalu yang cukup kelam.

​

“Ceritanya romantis, bukan hanya antara laki-laki dan perempuan, tapi juga antara ibu dan anaknya. Maknanya juga dalam dan warna cerita ini menggabungkan dua culture yaitu Indonesia dan India,” sambungnya. 

​

Di sisi lain, salah satu artis kawakan Indonesia, Ria Irawan juga akan ikut meramaikan film tersebut. Dia pun mengaku harus melakukan beberapa ‘penampilan khusus’ seperti tarian Jawa dalam film tersebut.

Sinergi Perum PFN dengan PT. WIKA Realty dan PT. Waskita Karya Realty

Jakarta, 09 Agustus 2018

Bertempat di Kementerian BUMN lantai 7, diselenggarakan penandatanganan Nota Kesepahaman tentang Optimalisasi Lahan PFN antara Perum Produksi Film Negara (Perum PFN), PT. Wijaya Karya Realty, dan PT. Waskita Karya Realty.

​

Acara ini dihadiri oleh Deputi Bidang Usaha Energi, Logistik, Kawasan dan Pariwisata Kementerian BUMN, Bapak Edwin Hidayat Abdullah, dan Asisten Deputi Bidang Usaha Energi, Logistik, Kawasan dan Pariwisata, Ibu Hendrika Nora Sinaga. Turut hadir pula Bapak Steve Kosasih (Komisaris Utama PT. Wijaya Karya Realty dan Direktur Keuangan PT. Wijaya Karya (Persero) Tbk), Bapak Eri Prananto (Direktur PT. Wijaya Karya Realty), Bapak Wahyu Tri Rahmanto (Direktur PT. Wijaya Karya Realty), Bapak Bambang Riyanto (Direktur Operasional PT. Waskita Karya (Persero) Tbk), Bapak Tukijo (Direktur Utama PT. Waskita Karya Realty), Ibu Luki Teta Handayani (Direktur PT. Waskita Karya Realty), Bapak Mohamad Abduh (Direktur Utama Perum PFN), Bapak Pardomuan Sihombing (Direktur Keuangan dan SDM Perum PFN), dan Bapak Elprisdat (Direktur Komersial dan Operasional Perum PFN).

​

Nota Kesepahaman ini diharapkan menjadi langkah awal yang baik untuk kebangkitan Perum Produksi Film Negara dan industri kreatif, serta perfilman nasional. Karena lahan Perum PFN yang terletak di Jl Otto Iskandardinata Kav 125-127 seluas 2,3 Ha direncanakan akan dijadikan tidak hanya sebagai lifestyle center dan co-working space, tetapi juga sebagai creative hub untuk infrastruktur film-making.

​

Hal ini melihat perkembangan produksi judul film nasional yang semakin meningkat dari tahun ke tahun, namun fasilitas live studio maupun post production studio di Indonesia jumlahnya masih sangat minim. Begitu pula dengan studio animasi terintegrasi di Indonesia yang baru ada di Batam.  Sementara Jakarta yang merupakan kota di Indonesia dengan produksi film terbesar, malah belum punya. PFN memiliki peluang mewujudkan hal itu, tidak hanya karena sejarah panjangnya dalam perfilman nasional, melainkan juga karena ketersediaan lahan relatif memadai di tengah kota Jakarta, yang menjafi nilai tambah bagi pegiat perfilman dan industri kreatif. 

​

Diharapkan setelah adanya Nota Kesepahaman ini akan berlanjut pada Perjanjian Kerja Sama dan terealisasi segera tahun ini, sesuai dengan arahan dari Bapak Edwin Hidayat Abdullah.

Ramah Tamah dan Penggalangan Dana Partisipasi Produksi Film Terbaru Perum PFN

Jakarta, 06 Juli 2018

Acara ramah tamah dan Penggalangan Dana Partisipasi Produksi Film Terbaru Perum PFN diselenggarakan di Lara Djonggrang, sebuah restoran bernuansa tradisional di daerah Menteng, Jakarta Pusat.

​

Dengan dihadiri oleh Deputi Bidang Usaha Energi, Logistik, Kawasan dan Pariwisata Kementerian BUMN, Bapak Edwin Hidayat Abdullah, dan Asisten Deputi Bidang Usaha Energi, Logistik, Kawasan dan Pariwisata, Ibu Hendrika Nora Sinaga, Bapak Mohamad Abduh (Direktur Utama Perum PFN), Bapak Pardomuan Sihombing (Direktur Keuangan dan SDM Perum PFN), Bapak Elprisdat (Direktur Komersial dan Operasional Perum PFN) dan para pimpinan dari beberapa BUMN, acara ini berlangsung meriah dan penuh keakraban. Mencerminkan persaudaraan dan sinergi yang kuat antar BUMN di Indonesia.

​

Acara dimulai dengan presentasi oleh Salman Aristo dan Mohamad Abduh sebagai Produser. Materi presentasi yang dipaparkan berisi penjelasan terkait film yang rencananya akan mulai diproduksi di akhir kuartal III 2018 ini.

​

Film ini mengangkat kisah cinta yang dilatar-belakangi kebudayaan Indonesia dan India. Pengambilan gambar yang berlokasi di daerah Borobudur dan sekitarnya diharapkan akan meningkatkan rasa bangga dan kecintaan akan warisan budaya luhur milik bangsa Indonesia ini kepada para penontonnya.

​

Di akhir acara, diadakan penanda-tanganan formulir berisi pernyataan komitmen dukungan Dana Partisipasi yang dilakukan oleh masing-masing pimpinan BUMN yang hadir.

​

​

PFN Mengikuti Rapat Konsolidasi NPNC

​

Jakarta, 19 April 2018

Pada tanggal 19 April 2018 bertempat di Ruang Adhyana Wisma Antara, Jakarta Pusat, Perum Produksi Film Negara (PFN) menghadiri undangan rapat konsolidasi NPNC (National Publishing and News Corporation).

​

Dalam rapat ini turut hadir anggota NPNC yaitu Perum LKBN ANTARA, Perum Percetakan Nasional Republik Indonesia (PNRI), PT Balai Pustaka (Persero), dan Perum Percetakan Uang Republik Indonesia (PERURI), serta dihadiri pula oleh Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis, dan Media Kementerian BUMN, Bapak Fajar Harry Sampurno.

  

Rapat konsolidasi ini bertujuan untuk mendengarkan hasil kajian dari Frost & Sullivan consulting terkait rencana holding NPNC.

​

Sebelum rapat dimulai, Perum PFN bersama Perum LKBN ANTARA juga menandatangani nota kesepahaman tentang pemanfaatan potensi dan pemasaran bersama.

​

Nota kesepahaman ditandatangani oleh Direktur Utama Perum LKBN ANTARA, Bapak Meidyatama Suryodiningrat dan Direktur Utama Perum PFN, Bapak Mohamad Abduh.

Penandatanganan MOU PFN dengan PT. Pelni (Persero)

​

Jakarta, 02 Maret 2018

Perum Produksi Film Negara (PFN) akan bersinergi dengan PT. Pelni (Persero), hal ini ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman antara Perum PFN dan PT. Pelni (Persero) yang dilaksanakan pada Jumat (02/03) di atas kapal KM Kelud milik PT. Pelni (Persero) yang tengah bersandar di Dermaga Terminal Penumpang Pelabuhan Tanjung Priok.

​

Direktur Utama PT Pelni (Persero), Insan Purwarisya L. Tobing, mengatakan sinergi dengan Perum PFN dimaksudkan agar PT. Pelni (Persero) dapat mengekspos fasilitas kapal Pelni yang setara dengan hotel sehingga masyarakat tertarik untuk menggunakan jasa pelayaran PT Pelni.

​

Selain itu, PT Pelni (Persero) juga ingin mengangkat wisata laut dan tol laut yang diusung oleh PT. Pelni (Persero).

 

Selain Perum PFN, PT. Pelni (Persero) juga menandatangani Nota Kesepahaman dengan PT. Rajawali Nusantara Indonesia (RNI), Perum DAMRI, dan Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia (POSSI).

​

Acara ini dihadiri oleh Deputi Bidang Usaha Konstruksi dan Sarana dan Prasarana Perhubungan, Ahmad Bambang, serta Direksi dari keempat BUMN dan Ketua Umum Pengurus Besar POSSI, Mayjen TNI Mar (Purn) Buyung Lalana, SE.

PFN Rapat Bersama Komisi X DPR RI Bahas Revisi UU Perfilman

​

Jakarta, 14 Februari 2018

Perum Produksi Film Negara (PFN) diundang untuk menghadiri rapat internal dengan Ketua Komisi X DPR RI. Rapat internal ini membahas aspirasi persiapan RUU Ekonomi Kreatif di program legislasi nasional (prolegnas) prioritas 2018 dan rencana revisi UU No 33 Tahun 2009 tentang Perfilman yang diajukan oleh Panitia Kerja (Panja) Perfilman Nasional yang dibentuk sejak tahun 2016.

​

Rapat dipimpin langsung oleh Ketua Komisi X DPR RI, Dr. Ir. Djoko Udjianto, MM.

​

Rapat mengundang perwakilan dari Badan Perfilman Indonesia (BPI) yang diwakili oleh Alex Sihar (Ketua Bidang Advokasi Kebijakan), Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI) 56 yang diwakili oleh Marcella Zalianty (Ketua PARFI56), Ray Sahetapy (Wakil Ketua Umum I), Wanda Hamidah (Wakil Sekretaris Jenderal I), Asosiasi Industri Animasi dan Kreatif Indonesia (AINAKI) yang diwakili oleh Edgar Hidamy (Sekretaris Jenderal), Catherine Keng (Corporate Secretary Cinema 21), serta Perum Produksi Film Negara (PFN) yang dihadiri oleh seluruh jajaran Direksi PFN.

​

Turut pula menghadiri rapat Anggota Komisi X DPR RI yakni Venna Melinda, SE., drg. Hj. Yayuk Sri Rahayuningsih, MM., MH., dan Arzetty Bilbina Setyawan, SE., M.A.P.

​

Hasil dari rapat mendorong Panja Perfilman untuk segera menyusun naskah akademik terkait rencana revisi UU No.33 Tahun 2009 dan pasal perfilman dalam RUU Ekonomi Kreatif yang akan dikaji dalam prolegnas 2018. Panja Perfilman Nasional juga berharap agar pemerintah segera mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) tentang Perfilman. 

Tentang PFN

Layanan

Fasilitas

Lain-Lain

Perum Produksi Film Negara

Jl. Otista Raya  No. 125 - 127,

Kampung Melayu, Jatinegara,

Jakarta Timur - 13330

Indonesia

+62 21 8192508

Copyright © Perum PFN - 2018