Berita PFN

Amoroso Katamsi, Mantan Direktur Utama Perum PFN Meninggal Dunia

Jakarta, 11 Mei 2018

Kabar duka menyelimuti Perum Produksi Film Negara (PFN) dan dunia perfilman Indonesia. Mantan Direktur Utama Perum PFN tahun 1991-1998, Bapak Amoroso Katamsi, meninggal dunia dini hari Selasa (17/04) pukul 01.40 di RSAL Mintohardjo.

​

Selain pernah menjabat sebagai Direktur Utama, almarhum juga dikenal sebagai pemeran Presiden Soeharto dalam film “Penumpasan Penghianatan G30S/PKI” yang diproduksi PFN dan disutradarai oleh Arifin C. Noer.

​

Selamat jalan Bapak, terimakasih atas sumbangsih Bapak kepada Perum PFN.

PFN Mengikuti Rapat Konsolidasi NPNC

Jakarta, 11 Mei 2018

Pada tanggal 19 April 2018 bertempat di Ruang Adhyana Wisma Antara, Jakarta Pusat, Perum Produksi Film Negara (PFN) menghadiri undangan rapat konsolidasi NPNC (National Publishing and News Corporation).

​

Dalam rapat ini turut hadir anggota NPNC yaitu Perum LKBN ANTARA, Perum Percetakan Nasional Republik Indonesia (PNRI), PT Balai Pustaka (Persero), dan Perum Percetakan Uang Republik Indonesia (PERURI), serta dihadiri pula oleh Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis, dan Media Kementerian BUMN, Bapak Fajar Harry Sampurno.

  

Rapat konsolidasi ini bertujuan untuk mendengarkan hasil kajian dari Frost & Sullivan consulting terkait rencana holding NPNC. 

Sebelum rapat dimulai, Perum PFN bersama Perum LKBN ANTARA juga menandatangani nota kesepahaman tentang pemanfaatan potensi dan pemasaran bersama.

​

Nota kesepahaman ditandatangani oleh Direktur Utama Perum LKBN ANTARA, Bapak Meidyatama Suryodiningrat dan Direktur Utama Perum PFN, Bapak Mohamad Abduh.

Penandatanganan MOU PFN dengan PT. Pelni (Persero)

Jakarta, 02 Maret 2018

Perum Produksi Film Negara (PFN) akan bersinergi dengan PT. Pelni (Persero), hal ini ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman antara Perum PFN dan PT. Pelni (Persero) yang dilaksanakan pada Jumat (02/03) di atas kapal KM Kelud milik PT. Pelni (Persero) yang tengah bersandar di Dermaga Terminal Penumpang Pelabuhan Tanjung Priok.

​

Direktur Utama PT Pelni (Persero), Insan Purwarisya L. Tobing, mengatakan sinergi dengan Perum PFN dimaksudkan agar PT. Pelni (Persero) dapat mengekspos fasilitas kapal Pelni yang setara dengan hotel sehingga masyarakat tertarik untuk menggunakan jasa pelayaran PT Pelni.

Selain itu, PT Pelni (Persero) juga ingin mengangkat wisata laut dan tol laut yang diusung oleh PT. Pelni (Persero).

 

Selain Perum PFN, PT. Pelni (Persero) juga menandatangani Nota Kesepahaman dengan PT. Rajawali Nusantara Indonesia (RNI), Perum DAMRI, dan Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia (POSSI).

​

Acara ini dihadiri oleh Deputi Bidang Usaha Konstruksi dan Sarana dan Prasarana Perhubungan, Ahmad Bambang, serta Direksi dari keempat BUMN dan Ketua Umum Pengurus Besar POSSI, Mayjen TNI Mar (Purn) Buyung Lalana, SE.

PFN Rapat Bersama Komisi X DPR RI Bahas Revisi UU Perfilman

Jakarta, 14 Februari 2018

Perum Produksi Film Negara (PFN) diundang untuk menghadiri rapat internal dengan Ketua Komisi X DPR RI. Rapat internal ini membahas aspirasi persiapan RUU Ekonomi Kreatif di program legislasi nasional (prolegnas) prioritas 2018 dan rencana revisi UU No 33 Tahun 2009 tentang Perfilman yang diajukan oleh Panitia Kerja (Panja) Perfilman Nasional yang dibentuk sejak tahun 2016.

​

Rapat dipimpin langsung oleh Ketua Komisi X DPR RI, Dr. Ir. Djoko Udjianto, MM. 

Rapat mengundang perwakilan dari Badan Perfilman Indonesia (BPI) yang diwakili oleh Alex Sihar (Ketua Bidang Advokasi Kebijakan), Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI) 56 yang diwakili oleh Marcella Zalianty (Ketua PARFI56), Ray Sahetapy (Wakil Ketua Umum I), Wanda Hamidah (Wakil Sekretaris Jenderal I), Asosiasi Industri Animasi dan Kreatif Indonesia (AINAKI) yang diwakili oleh Edgar Hidamy (Sekretaris Jenderal), Catherine Keng (Corporate Secretary Cinema 21), serta Perum Produksi Film Negara (PFN) yang dihadiri oleh seluruh jajaran Direksi PFN.

​

Turut pula menghadiri rapat Anggota Komisi X DPR RI yakni Venna Melinda, SE., drg. Hj. Yayuk Sri Rahayuningsih, MM., MH., dan Arzetty Bilbina Setyawan, SE., M.A.P.

​

Hasil dari rapat mendorong Panja Perfilman untuk segera menyusun naskah akademik terkait rencana revisi UU No.33 Tahun 2009 dan pasal perfilman dalam RUU Ekonomi Kreatif yang akan dikaji dalam prolegnas 2018. Panja Perfilman Nasional juga berharap agar pemerintah segera mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) tentang Perfilman. 

Melawan Kolonialisme Melalui Film

Jakarta, 10 November 2017

Perum PFN sebagai Badan Usaha Milik Negara, memiliki sejarah panjang dalam pembentukannya. Ia berdiri sejak 1934 dengan nama Java Pacific Film, yang kemudian berganti nama pada 1936 menjadi Algemeene Nederlands Indiesche Film (ANIF). Di tahun 1937, ANIF tercatat sukses memproduksi film Terang Boelan.

​

Pergantian nama kembali terjadi kepada PFN ketika Jepang menduduki Indonesia pada 1942, seiring dengan pengambilalihan seluruh aset yang berada di bawah kekuasaan Pemerintah Hindia Belanda oleh Jepang. Dari aset ANIF, pada April 1943, Jepang kemudian mendirikan Nippon Eiga Sha yang berada di bawah pengawasan Sendenbu. Dibawah Nippon Eiga Sha, film-film yang diproduksi mengalami perkembangan peran sebagai alat propaganda politik Jepang sebagai pemersatu Asia.

​

Tonggak peran PFN dalam melawan kolonialisme melalui film, tercatat pada 6 Oktober 1945, ketika pendirian Berita Film Indonesia dilakukan sebagai hasil dari pengambilalihan Nippon Eiga Sha dari pimpinannya, T. Ishimoto, dengan sepengetahuan Menteri Penerangan Indonesia saat itu, Amir Sjarifuddin. Pengambilalihan ini, diprakarsai oleh pegawai Nippon Eiga Sha berkebangsaan Indonesia, Raden Mas Soetarto, yang saat itu diangkat oleh Jepang sebagai wakil pimpinan perusahaan merangkap Ketua Karyawan Indonesia dan juru kamera.

​

Sebelum dipindahkan ke Surakarta (Solo) karena alasan keamanan dimana gejolak mempertahankan kemerdekaan di Jakarta sedang tinggi, BFI masih sempat memfilmkan hari proklamasi, penempelan poster, tulisan di tembok-tembok, rapat raksasa 19 September di Lapangan Ikada, peristiwa perlucutan senjata Jepang oleh Sekutu, pengangkutan serdadu Jepang ke Pulau Galang, serta Kongres Pemuda Indonesia di Yogyakarta pada November 1945.

​

Dilansir dari jakarta.go.id, BFI tercatat telah membuat film dokumentasi dan berita selama kurun 1946 ñ 1949. Peristiwa-peristiwa yang diabadikan antara lain: Olahraga Nasional I di Surakarta (1948), Peristiwa Pemberontakan PKI Madiun (1948), Agresi Militer Belanda I dan II, Perundingan Renville, Perundingan Linggajati, dan upacara penyerahan kedaulatan RI di Belanda pada 27 Desember 1949.

​

Film-film berita yang dibuat oleh BFI, kemudian berperan sebagai penggugah semangat perjuangan bangsa dan kesadaran bernegara. Beberapa berita film yang diserahkan juga kepada perwakilan tentara Australia, Amerika, Inggris, dan India di Jakarta, juga menghasilkan didapatnya respon positif dari dunia Internasional terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia.

​

Perlawanan terhadap kolonialisme serta semangat berbangsa dan bernegara, tidak berubah meski BFI berganti nama menjadi PFN pada 1950. Seperti Untuk Sang Merah Putih (1950), Inspektur Rachman (1950), Rakjat Memilih (1951) dan Kopral Djono (1954).

​

Bahkan jauh setelah masa kemerdekaan, yaitu pada 1981, PFN memproduksi film bernafas perjuangan mempertahankan kemerdekaan dalam Kereta Api Terakhir. Dimana, Anton DH Nugrahanto mengakui dalam ulasan yang ia tuliskan pada kompasiana 14 Mei 2012, bahwa Kereta Api Terakhir adalah film kolosal yang digarap dengan serius, teliti, dan bermutu.

​

Ke depannya, PFN berharap dapat terus memberi kontribusi nyata bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam merekam jejak perjalanan bangsa ini. Dimana, peran film sebagai media strategi penyampai budaya bangsa sepatutnya menjadi suatu aset yang selalu dilestarikan.

​

Selamat Hari Pahlawan, Indonesia

Perjanjian Kerjasama PFN dan PT.SIER

Jakarta, 03 November 2017

Video

Perjalanan Si Unyil

Jakarta, 27 Oktober 2017

Si Unyil, tokoh boneka yang akrab bagi generasi yang tumbuh di era 80-an ini, kini akan kembali menyapa pemirsa Indonesia melalui tayangan animasi yang dikemas dalam judul Petualangan Si Unyil.  Animasi yang mulai digagas sejak 2014 ini, kini dapat dinikmati oeh pemirsa Indihome Usee TV, dan diharapkan dapat segera tayang untuk publik dalam waktu dekat.

​

Sekedar menyegarkan ingatan bagi generasi yang tumbuh bersama Si Unyil dan kawan-kawan, Si Unyil pernah sukses tayang dalam kemasan serial boneka di TVRI selama 12 tahun, yaitu pada periode 1979 ñ 1993. Jika melihat dari durasi tayang yang sedemikian lama, tak heran jika banyak pemirsa Indonesia yang begitu antusias mendengar kabar Si Unyil diproduksi kembali. Antusiasme ini pernah berusaha diwujudkan melalui penayangan pada RCTI pada kurun 2002 ñ 2003, dilanjutkan oleh TPI (saat ini MNC) pada tahun 2003.

Seiring perjalanan waktu dimana selera pada tayangan tivi juga berubah,  Si Unyil kemudian menjadi icon sebuah tayangan berkonsep liputan bernama Laptop Si Unyil dan Buku Harian Si Unyil. Dimana keduanya, merupakan satu rangkai tayangan untuk anak yang diudarakan oleh Trans 7. Sejak 2007 hingga kini, program Laptop Si Unyil masih mengudara dengan memunculkan boneka Si Unyil di setiap episodenya.bahkan di 2010, Laptop Si Unyil meraih urutan 1 pada  Children Edutainment di Indonesia.

​

Selain dalam bentuk boneka, Si Unyil sebenarnya juga pernah tampil dalam wujud manusia. Perwujudan Si Unyil dalam bentuk manusia ini, di angkat oleh PFN melalui sebuah film yang diproduksi era 80-an. Dimana dalam film tersebut, beberapa tokoh seperti Pak Raden yang fenomenal pun tampil sebagai manusia.

​

Kini di era millenial, dengan dihadirkannya Unyil dalam serial animasi, PFN berharap anak-anak Indonesia akan memiliki figure yang mampu membuat anak-anak merasa lebih dekat. Sehingga kelak, Si Unyil akan mampu menjadi ikon dan media pengembangan karakter yang baik untuk anak-anak Indonesia.

72 Tahun PFN Berkarya untuk Indonesia

Jakarta, 27 Oktober 2017

Selamat Ulang Tahun Perum Produksi Film Negara ke 72.

​

Semoga PFN dapat menjadi perusahaan yang sehat dan mampu bersaing dalam konteks industri kreatif di Indonesia melalui kegiatan produksi, publikasi, distribusi, eksebisi, pendidikan dan pelatihan, production services serta event organizer karya ñ karya kreatif berbasis teknologi media dan film.

Perum Produksi Film Negara

Jl. Otista Raya  No. 125 - 127,

Kampung Melayu, Jatinegara,

Jakarta Timur - 13330

Indonesia

+62 21 8192508

info@pfn.co.id

Copyright © Perum PFN - 2018